Riniivan's Blog

Something about my life

on January 20, 2010

Kisah Inspiratif :

Perbuatan Baik Akan Kembali Kepada Kita Lagi

Dicopy dari web site :http://www.kisahinspiratif.com

Written by admin on Dec 16th, 2009 | Filed under: Kisah Inspirasional

Dengan perlahan-lahan orang itu memandang ke atas. Tampak olehnya seorang wanita yang pasti biasa hidup mewah. Mantel bulunya tampak baru.

Kelihatan dia seperti seorang yang tidak pernah kelaparan seumur hidupnya. Sekilas pada benaknya dia terpikir bahwa tentu wanita itu akan mengolok-olok kepadanya seperti yang sering dilakukan banyak mereka sebelumnya.

“Tinggalkan aku sendirian,” gumamnya dengan marah… Tapi dia merasa heran karena wanita itu tetap berdiri disitu. Dia tersenyum – sehingga sebaris giginya yang putih rata tampak berkilauan.

“Apakah anda lapar?” dia bertanya.

“Tidak,” jawabnya dengan penuh ejekan. “Saya baru saja selesai makan malam dengan President USA … Nah, pergilah kesana.”

Senyuman dari wanita itu menjadi lebih lebar.

Tiba-tiba orang itu merasa tangan yang lemah lembut mencoba mengangkatnya untuk berdiri. “Nyonya, apa yang kau lakukan?” orang itu bertanya dengan marah. “Aku sudah bilang, biarkan aku sendirian.”

Pada saat itu seorang polisi mendekati. “Ada masalah apa, nyonya?” dia bertanya.

Tidak ada masalah sama sekali, pak,” jawab perempuan itu. “Saya hanya berusaha mengangkat orang ini berdiri pada kakinya. Bolehkah anda menolong saya?”

Polisi itu menggaruk-garuk kepalanya. “Itu adalah si Jack tua. Dia sudah beberapa tahun lamanya bergelandangan disini. Anda mau bikin apa kepadanya?”

“Anda lihat cafeteria itu disana?” dia bertanya. “Saya mau memberikan makanan kepadanya dan membawa dia menghindar dari hawa yang dingin ini untuk sebentar.”

“Apakah anda sudah gila, nyonya?” orang yang gelandangan itu menolak tanpa bergeming. “Aku tidak mau pergi kesana!” Pada saat itu merasakan tangan-tangan yang kuat memegang lengannya yang sebelah lagi dan mengangkat dia berdiri pada kakinya.

“Biarkan aku pergi, pak polisi. Aku tidak berbuat salah apa pun!”

“Ini adalah perbuatan baik untukmu, Jack,” jawab polisi itu. “Jangan sia-siakan itu, kawan.”

Akhirnya dan dengan susah payah, wanita dan polisi itu berhasil membawa Jack ke dalam cafetaria dan mendudukkan dia di samping meja yang berada di sudut. Hari sudah mulai larut, jadi kebanyakan orang yang makan pagi sudah pergi dan mereka langganan untuk makan siang masih belum tiba.

Manager cafeteria itu berjalan mendekati dan berdiri di samping meja itu.
“Ada apa ini, pak polisi?” dia bertanya.
“Apa artinya ini, apakah orang ini membuat masalah?”

Nyonya ini telah membawa orang ini untuk diberikan makan di sini,” jawab polisi itu.

“Tidak di tempat ini!” jawab manager itu dengan marah. “Membiarkan orang seperti ini berada disini akan membawa malapetaka kepada dagang kami.”

Jack tua tersenyum menyeringai dengan giginya yang ompong. “Kau lihat itu, nyonya. Saya kan sudah katakan. Nah, sekarang biarkanlah aku bergi. Saya memang dari semula tidak mau datang kemari.

Wanita itu berpaling kepada manager cafeteria itu sambil tersenyum. “Pak, kenalkah anda kepada Eddy and Associates, perusahaan perbankan yang ada di sudut jalan itu?”

“Tentu saja aku kenal mereka, setiap minggu mereka mengadakan pertemuan rutin mereka di salah satu ruangan pesta VIP ku untuk santap malam.

“Dan anda mendapat keuntungan yang lumayan menyediakan makanan untuk pertemuan mingguan ini?”

Apakah urusanmu dengan hal itu?”

“Saya, Pak, adalah Penelope Eddy, President dan CEO dari perusahaan itu.”

“Oh..”

Wanita itu tersenyum lagi. “Saya memang berpikir bahwa itu mungkin bisa membuat perubahan dalam sikap anda.”

Dia melirik kepada polisi yang sedang berusaha menyembunyikan tertawanya. “Pak polisi, apakah anda mau ikut serta dengan kami menikmati secangkir kopi dan sarapan?”

“Oh, tidak, terima kasih, nyonya,” jawab polisi itu. “Saya sedang dalam tugas.”

“Nah, kalau begitu, mungkin secangkir kopi untuk anda bawa pergi?” “Baiklah, nyonya.. Itu sangat baik, terima kasih.”

Manager cafeteria itu langsung berbalik dan berkata. “Saya akan mengambil kopinya untuk anda, pak polisi.”

Polisi itu memandang manager itu berjalan pergi. “Anda sudah menyadarkan dia akan posisinya dengan baik,” katanya.

Itu bukanlah tujuan saya sebenarnya. Tapi anda percaya atau tidak saya mempunyai alasan untuk melakukan semua ini.”

Dia duduk di pinggir meja di seberang tamunya yang melongo keheranan. Tamunya itu sekarang menerawang mukanya dengan penuh perhatian.

“Jack, apakah anda masih ingat kepada saya?”

Si Jack tua memandang wajah wanita itu dengan matanya yang mulai lamur dan berkaca-kaca dengan linangan air mata. “Saya rasa begitu, maksud saya, wajah anda memang kelihatan saya kenal.”

“Mungkin aku sekarang kelihatan lebih tua,” dia berkata. “Mungkin usiaku sudah lebih dari dua kali lipat sejak masa mudaku ketika engkau bekerja di sini, dan aku berjalan masuk melalui pintu, sedang kedinginan dan lapar.”

“Bagaimana, nyonya?” polisi itu bertanya keheranan. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu cemerlang tampangnya pernah mengalami lapar…”

“Saya baru saja tamat dari Perguruan Tinggi,” wanita itu memulai kisahnya. “Saya sudah datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan apa pun. Akhirnya uangku sisa beberapa sen saja, dan saya telah diusir dari apartemenku. Saya berjalan ke sana ke mari gelandangan di jalan untuk beberapa hari. Saat itu bulan Februari dan saya sedang sangat kedinginan dan hampir mati kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk dengan harapan mudah-mudahan bisa memperoleh sesuatu yang dapat kumakan.”

Si Jack mulai tersenyum wajahnya. “Sekarang saya ingat,” dia berkata. “Saya waktu itu berdiri di balik meja sana sedang melayani langganan. Anda mendekati saya dan bertanya kalau anda bisa melakukan apa saja dengan upah sesuatu untuk dimakan. Saya berkata bahwa itu adalah melawan peraturan dari
perusahaan ini.”

“Saya tahu,” wanita itu melanjutkan. “Kemudian anda membuatkan saya sandwich roast beef yang paling besar yang pernah saya lihat seumur hidup, dan memberikan saya secangkir kopi, dan menyuruh saya untuk pergi duduk di satu sudut cafeteria ini dan menikmatinya. Saya takut waktu itu anda akan mengalami kesusahan karena saya. Kemudian saya melihat anda memasukkan uang dan mencetak harga makanan saya itu di mesin hitung, dan saya tahu bahwa semuanya beres.”

“Jadi anda memulaikan perusahaan anda sendiri?” kata si Jack tua.

“Saya mendapat pekerjaan pada sore hari itu juga. Saya mulai bekerja dari bawah dan makin meningkat. Akhirnya saya mulaikan perusahaan saya sendiri, dan dengan pertolongan Tuhan, saya berhasil.” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Sehabis anda makan, saya mau anda pergi menemui
Mr.Lyons. Dia adalah direktur personil dari perusahaan saya. Saya akan berbicara dengan dia sekarang, dan saya merasa pasti bahwa dia akan menemukan suatu pekerjaan yang anda dapat lakukan di kantor.”

Dia tersenyum. “Saya pikir dia juga akan memberikan kepada anda sedikit uang panjar supaya anda bisa membeli pakaian dan mendapat tempat tinggal sampai anda bisa mandiri. Kalau anda memerlukan apa saja dikemudian hari, pintu rumah saya selalu terbuka bagi anda.

Air mata berlinang-linang diwajah orang tua itu. “Bagaimana saya akan bisa berterima kasih secukupnya kepada anda?” dia bertanya.

“Jangan berterima kasih kepadaku,” jawab wanita itu. “Bagi Tuhan segala kemuliaan. Dialah yang telah menuntun saya kepada anda,”

Di luar cafeteria itu, polisi dan wanita itu berdiri sekejap di depan pintu sebelum mereka berpisah.

“Terima kasih untuk pertolongan anda, pak polisi” dia berkata.

“Sebaliknya , Ny. Eddy,” dia menjawab. “Terima kasih kepada anda. Saya menyaksikan sebuah mujizat hari ini, sesuatu yang saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.. Dan terima kasih untuk kopi itu.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s