Riniivan's Blog

Something about my life

Abi vs Rasa ” Gengsi”

on November 27, 2015

Salah satu PR kami terutama saya sebagai ibunya Abi adalah,mengajarinya tentang menguasai diri dari rasa “gengsi”. Bukaaan, bukan gengsi yang itu ,bukan
gengsi naik angkot karna ngga punya mobil, bukan gengsi makan di tempat2 sederhana demi label halal,bukan gengsi karna hal2 yang sifatnya materi.Abi tidak pernah diajari term gengsi yang seperti itu ( semoga istiqamah ya ALLAH ).

Sebatas pengamatan saya, Abi gengsi jika dia red handed catched doing something shameful ,silly or wrong.Reaksinya? tergantung, kadang dia menangis penuh kemarahan, dan yang paling parah memukul sambil menangis marah.

Kejadian 1 : saya sedang melakukan transaksi setor tunai di salah satu bank,Abi duduk di bangku tunggu yang agak tinggi untuk ukuran anak2 sambil pegang balon,sambil liat layar tivi yang isinya advertising produk2 bank tersebut.Tanpa dia sadar, balon terlepas dari tangannya dan tanpa dia sadar pula bahwa kursi yang didudukinya itu tinggi, dia bermaksud meraih balon, dan terjatuhlah dia terjerembab ke lantai. Seisi bank yang ukuran ruangannya kecil itu ( kantor kas di mall ), bereaksi doong, bahkan seorang satpam mencoba membantunya, yang ditolak oleh ABI.Dengan ekspresi kemarahan campur malu, dia berlari ke arah saya, memeluk saya, dan menyembunyikan dirinya dibalik jilbab ( yang kebetulan lebar dan panjang ) saya, menangis sesegukan. Saya diam saja, hanya menggosok2 punggungnya lalu beberapa saat setelah dia mereda, saya peluk, saya gendong ( walau beraaat ). Sekeluar dari bank, sambil saya ajak menikmati es krim, saya tanya, kenapa nangis, apakah ada yang sakit atau terluka, jawabnya ngga ada.Jawabnya dia nangis karna dia ngga suka orang2 di bank itu kaget, dia ngga suka Oom Satpam mau bantuin dia #jreeeng

Kejadian 2 , di salah satu gerai makan. Dia seperti biasa, asyik berjalan2 mengelilingi ruangan melihat2 dan mengomentari segala yang menurutnya menarik, mungkin saking exited nya, tanpa sengaja dia menabrak mas waitress yang sedang membawakan pesanan kami saat si mas juga dalam posisi berbalik badan menabrak Abi ( bertabrakan lah mereka ). Mas waitress nya kaget dan meminta maaf ke Abi dengan nada panik dan khawatir kalo Abi kenapa2, sementara reaksi popi, langsung meminta abi kalem, berhati2 agar ngga nabrak. Reaksi ABI? Dia langsung nyungsep ke pelukan popinya sambil memukul2 tubuh popinya untuk beberapa saat hingga “malu” nya reda. Di mall tidak kami bahas sikapnya itu meski hati ini kesal, teorinya, Abi sedang dikuasai emosinya, percuma dimarahin ,walau demikian dia tetap diingatkan untuk well behave.

Sepulang ke rumah, saat saya tanya kenapa reaksinya begitu .Jawabnya, dia ngga suka reaksi.oom yang khawatir, dia ngga suka reaksi popi yang “menegur” dia di depan oom #jreeeng

Sekarang kami lagi diskusikan berdua, apa yang harus kami contohkan pada ABI. So far, popinya udah kasih pengertian tentang “rasa gengsi”, bahwa dia tidak harus selalu benar, dia tidak harus selalu menang. Kadang kita ditegur dan diingatkan di depan orang lain. Di bagian ini Abi protes, dia ngga mau, kalo dia mau “ditegur” jangan di depan orang, bertiga aja, popi, momi dan dia.Dia juga menolak kalah, katanya dia selalu jadi winner😥

Mungkin harus diajak melihat kenyataan, misalnya sengaja dia diajak.menonton orang yang dikenal dan dikaguminya ikut pertandingan dan kalah, dan yang kalah tetap baik2 saja, sportif. Mungkin justru dia harus diikutkan lomba dan merasakan kalah dan baik2 saja. Padahal kami selama ini belum pernah memuji2 dia untuk sesuatu yang sifatnya non ahlak, misal, kami tidak pernah memujinya unggul dari teman2 atau saudara2 nya.Kalopun kami memujinya adalah karna dia udah ada progress positif, karna dia berkomitmen terhadap janjinya, spesifik.

Nantilah, coba didiskusikan lagi.Kalo kata Popi sih masih dalam batas wajar, dia masih anak2, reaksi2 nya itu diluar kontrol dirinya, seiring bertambah umur,dia akan bisa memilah.Kalo kata mominya sih justru sedari anak2 dia harus dibiasakan.Tapi ,mungkin popi benar juga ya, yang penting ortunya selalu kasih tau dan kasih pengertian tentang keliru dan benar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s