Riniivan's Blog

Something about my life

HOME

on August 7, 2016

Home is where I belong to!

Kemaren kakek dan nenek nya Abi udqh balik ke Palembang, setelah 1 bulan lebih ada di sini, kalo ngga di rumah, ya di rumah ade di daerah Pamulang.
Sedih? tak terdeskripsi, bukan cuma sedih, juga rasa khawatir, nelongso, tak berdaya, ngga enak hati, udah tercampur aduk ngga jelas sejak seminggu yang lalu, saat tiket beliau udah dibeli oleh ade.

Bangun tidur fajar ini pun, hati masih nyeri banget, sehingga mata yang udah sembab ini kembali basah. Seperti Popi bilang, mereka baik2 saja, bahagia karena memiliki anak2 yang baik dan menyayangi mereka, tapi teteep aja rasanya mbrebes di hati.

Saya yang merupakan putri tertua, adalah salah satu saksi hidup perjuangan jungkir balik mereka membesarkan kami dengan tidak mudah, hanya mereka berdua, berjibaku jatuh bangun. Saya yang merupakan putri tertua mereka,adalah salah satu yang sering menangis di balik bantal saat malam tiba, menyaksikan ketabahan dan pengorbanan mereka membesarkan kami. Yang membuat nyeri adalah, setelah mereka “berhasil” , hasil yang mereka usahakan jumpalitan itu pergi, mengikuti imam2 masing2, meninggalkan mereka yang lelah dan menua. Tak usahlah berkata bahwa mereka ikhlas, bahwa mereka tenang. Tentu mereka lebih dari ikhlas, tentu mereka lebih dari bahagia sekarang melihat dan medoakan anak cucunya dengan jarak membentang. Tapi ini soal perasaan anak perempuan kepada orang tua nya.

Tak ada anak yang tak ingin berbakti, tak ada anak yang tak ingin mendampingi dan menjaga langsung orang tua nya disaat badan mereka mulai merenta. Tak ada anak yang tak ingin setiap saat bisa bertemu malaikat dunia nya. Sementara si anak perempuan sedari kecil dididik untuk menjunjung tinggi suami nya,saat sedari awal si anak perempuan ditanamkan prinsip pengabdian pada suami. Jangankan soal karir yang nomer sekian belas, orang tua yang sejujurnya di hati si anak ini menempati urutan terpenting pun, harus digeser kepentingannya, menyusul kepentingan suami dan anak.

Mata ini basah,hati ini lebih basah, khawatir, merindu, pada mereka. Bahu dan pelukan Popi pun berkali2 harus basah.Tanpa kalimat, tanpa janji lebay, hanya usapan tegas namun lembut di kepala dan punggung saya, dan itu sudah sangat menegaskan saya, bahwa semua akan baik2 saja, dalam penjagaan Allah. Home is not where you are from. It is where You belong. I belong and am devoted to my Imam, my Home. But i will always bring my parents along with me ,to home

Semoga bukan hanya janji sementara, bahwa kami akan berusaha selalu membahagiakan kedua pasang orang tua kami, di masa renta mereka setelah selalu dan selalu berjuang untuk kami,anak2nya.

image


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s