Riniivan's Blog

Something about my life

Selamat LimaNov ,Pop

on November 5, 2016

Another 5 November!

Semoga semakin kuat komitmen antra kita, terhadap janji yang dibuat dengan menyebut Nama Allah, semoga semakin istiqomah mengejar surgaNya, semakin bergiat mencetak generasi shaleh, semakin dekat, semakin qanaah dalam pernikahan,Aamiin Allahumma Aamiin .

Mencatat kejadian yang teramat sangat menyentil saya hari ini. Pagi2, saat Paksu mencari cari dompet beliau, disitulah saya tersadar dan berlari menuju mesin cuci,lalu lemas begitu melihat banyaknya serpihan kertas diantara baju2 yang siap dijemur. Merogoh saku celana terakhir yang beliau pakai, makin lemas rasanya saat meraba si dompet disana.

Rasa marah dan kesal pada diri ,rasa sesal, rasa sedih, berkecamuk dan tertumpah jadi isakan saat menyaksikan KTP, surat2 penting, STNK motor dan STNK mobil yang baru diperpanjang dan balik nama sekitar 3hari yang lalu.

Dan yang saya dapat? pelukan! Hanya itu.Owiya plus usapan di punggung, khas Pak Popi saat saya sedang sedih, gundah atau menangis. Tak ada nasihat, tak ada pertanyaan, tak ada peringatan .Qadarullah kata beliau.Setelah mereda emosi ini, sekitar setengah hari kemudian, saat saya bertanya kenapa beliau ngga marah sedikitpun , jawabnya sungguh membuat mata ini mbrebes lalu menderas,kata beliau, buat apa? Hati saya jauh lebih berharga dari isi dompet itu,dan hati saya tadi pagi sudah terluka walau saya wujudkan dengan tangis dan ambekan ( aneh ya? saya memang aneh )

Lalu sorenya, kami belanja, jalan2 ke mall, berbekal sekeping, satu2nya keping ATM beliau yang berisi saldo lumayan dan yang dipegang kesehariannya oleh saya. Mungkin karena saya lelah, mungkin karena ngga fokus ,mungkin karena saya keasyikan sendiri ,saat di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sadar, dompet saya tak bisa ditemukan. Dibantu Pak Popi ,kami bongkar semua kantong belanja dan tas ransel saya ( sepanjang mall saya gendong di depan) , NIHIL. Kembali lah diri ini lemas seolah tak bersendi.

Setelah memastikan ketakberadaan si dompet,akhirnya beliau telfon call centre bank untuk pemblokiran. Dan saya? Rasanya tak kuasa menatap beliau yang kembali merangkul dan masiiiih aja bisa becandain saya untuk tujuan menghibur. Kembali tak terlihat sedikit pun, setitik aja tatapan kesal di mata beliau, tetap teduh tetap tak judgmental,MasyaAllah.

Dan saya? teramat sangat merugi bila tak bisa sedikiit aja kecipratan ilmu sabar beliau. Terima kasih Pop, untuk segalanya, untuk menjadi guru kehidupan, untuk tak pernah mencela sekali pun,untuk tak pernah menghakimi, untuk tak pernah membuat sedih.Semoga masih ada kesempatan untuk makin berbakti dan mengabdi padamu,Pop, memperbaiki dan makin memperbaiki kualitas diri.Terima Kasih Pop


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s